Haloo~ I hope everyone is in a positive mood like i am hehe..^^~
Judul di atas gue ambil dari satu buku yang baru aja gue beli dan masih gue baca judul aslinya adalah "Youth, Painful Splendor" atau dalam bahasa Korea, "Apeunikka Chungchunida". Untuk buku terjemahan bahasa Indonesia kalian bisa cari di toko buku dengan judul "Time of Your Life" by Professor Rando Kim seharga 39rb Rupiah (ini bukan promosi, cuma rekomendasi haha). FYI aja, Professor Rando Kim ini adalah seorang professor dalam bidang administrasi publik di Seoul National University, konselor, dan mentor terbaik se-Korea selatan. Here's him (he's younger than i thought. He's even younger than my father, he's still about 48 years old):
And this is the cover of his sensational book:
Buku ini cukup sensasional, di publikasikan pertama kali di bulan Desember 2010, buku ini menduduki peringkat pertama dalam daftar buku best-seller selama tiga minggu setelah diterbitkan dan memecahkan rekor penjualan satu juta kopi dalam waktu delapan bulan. Berdasarkan review dari Universitas Duksung, buku ini udah terjual sebanyak sekitar 15 juta kopi hanya dalam waktu sebulan dan bahkan mereka mengklaim bahwa mahasiswa(i) Duksung udah terjangkit syndrome buku ini. silahkan baca reviewnya di sini.
Jujur ketika gue nemuin baru ini (baru tadi siang) sebenernya gue sendiri gak terlalu tertarik ama cover terjemahan bahasa indonesianya (cuma gambar sepatu doang soalnya), tapi entah kenapa ada dorongan besar buat beli buku ini. Karena gue adalah tipe orang yang sangat mengandalkan intuisi akhirnya gue pun memutuskan untuk beli buku ini setelah keliling sana-sini nyari bacaan dan belum ada buku yang menarik hati, selain buku ini, akhirnya gue beli buku ini. Sebelum beli buku, gue selalu baca sinopsis yang biasanya terletak di bagian belakang buku dan ternyata sinopsisnya menarik. So, gue gak nyesel beli buku ini. ^^. Gue kasih sedikit spoiler tentang sinopsis buku ini ya:
"Flowers blossom only when their time comes. Forsythias have their own blossoming period; camellias go about according to their own schedule, as well. Even flowers can wait for their predestined blossoming period; why are you all dying to blossom prematurely in the early spring?"
Do you get the meaning of this quote? Jadi Professor Rando Kim memberikan nasihat terbaiknya untuk remaja-remaja yang menginjak usia 20 tahun. Dalam penyampaiannya, Prof. Rando Kim menggunakan banyak perumpamaan yang berhubungan sama kehidupan sehari-hari, salah satunya bunga. Prof. Rando Kim membandingkan para remaja dengan bunga. Lewat kutipan ini beliau berpesan, bahwa setiap remaja punya masa mekarnya sendiri-sendiri kayak bunga-bunga yang mekar sesuai dengan saatnya mekar. Atau pemahaman gampangnya, bunga aja bisa sabar nunggu kapan mereka harus mekar, dan kenapa kita justru kepengen cepet-cepet "mekar" di awal musim semi dan "kuncup" di akhir musim? intinya begitu.
Gue sebagai seorang mahasiswi frustasi dikejar deadline lulus tepat waktu berusia 21 tahun bagaikan menemukan setitik cahaya di tengah kegelapan ketika gue baca sinopsis buku ini. Buat gue, buku ini mampu menjawab berbagai pertanyaan hidup yang selama ini berkelebat di kepala gue, khususnya di semester akhir kayak sekarang. Kayak misalnya, di umur gue yang sekarang, gue selalu ngerasa iri sama mereka yang udah berhasil di usia muda, entah itu artis atau mereka yang udah lulus atau siapapun yang ibaratnya udah "mapan" di usia mereka yang menginjak 20 awal. Dan gue cuma bisa mandang iri sambil ngebatin, "enak banget mereka, udah mulai kerja keras dari usia muda. Gue udah 20 dan gue belum ngapa-ngapain". Disitu gue ngerasa kalo gue udah "telat" banget di usia gue yang ke-21 menjelang 22 ini. Tapi ternyata setelah baca buku ini, gue salah besar. menurut Prof. Rando, justru di usia 20an inilah segala sesuatunya dimulai. Beliau menggunakan pembagian hitungan jam kehidupan. Beliau mengibaratkan umur seseorang layaknya jam dan menit dalam kurun waktu 24 jam. Jadi ketika itu ada yang konsultasi sama beliau, dan si pasien ini ngerasa desperate banget di umurnya yang ke-30 dia belum bisa meraih apa2. Disini, prof.Rando ngasih contoh hasil hitungan jam kehidupan (gue gak ngerti itungan pastinya gimana. Pokoknya dalam waktu 24 jam ada 1440 menit, 1440 menit itu dibagi usia harapan hidup lo, misalnya lo berharap punya waktu hidup sampe 80 tahun, berarti 1440 menit dibagi 80 dan hasilnya 18. nah 18 itu adalah satuan menit yang lo dapet setiap tahunnya. Bingung? sama gue juga bingung .__.)
Jadi intinya, setelah melalui proses hitung2an yang ribet itu di dapet hasil, kalo seseorang berumur 24 tahun yang baru lulus dari universitas, di dalam jam kehidupannya dalam rentang waktu hidup selama 80 tahun ia berada di pukul 07.12 pagi. Umur 20 tahun berarti ada di jam 6 pagi, umur 50 tahun ada di jam 3 sore, dan umur 70 tahun ke atas menunjuk ke jam 6 sore. Prof. Rando sendiri yangusianya baru 48, angka jam kehidupannya menunjuk ke angka 3.42 PM. Mereka di usia 20an angka jamnya menunjuk kepada waktu di pagi hari yang berarti awal dari segala aktivitas yang dalam hitungan 24 jam berarti mereka masih punya waktu sekitar 17-18 jam dan itu bukan sisa waktu yang singkat. Apa artinya? artinya usia 20an adalah usia awal, dimana mereka yang menginjak usia ini justru sebenarnya punya waktu yang banyak bahkan amat sangat banyak dalam rentang kehidupan mereka untuk melakukan sesuatu yang bahkan bisa diingat ketika jam kehidupan mereka menunjuk ke angka jam 6 sore (usia senja) saat dimana orang-orang yang beraktivitas kembali ke rumah untuk istirahat, layaknya para anak muda yang nantinya juga akan memasuki usia senja dimana mereka beristirahat dan menikmati apa yang sudah mereka bangun ketika mereka muda.
Dan ketika akhirnya gue paham sama makna hitungan jam kehidupan itu, gue yang udah hampir frustasi ini kayak ditampar dan disadarkan and then i told myself: "Hey! ternyata gue gak telat-telat amat!". Gue cuma perlu lebih sabar nunggu masa gue "mekar" nanti, dan tentunya selama masa-masa itu gue juga harus rajin mupuk diri gue biar mekarnya makin bagus hehe...dan itu bukan satu-satunya topik yang cukup menampar gue, mungkin bukan cuma menampar tapi juga mematahkan pola pikir gue yang ternyata selama ini gue masih terjebak dalam pikiran mainstream anak muda jaman sekarang. Kuliah --> lulus --> cari kerja dan ngumpulin pundi-pundi keuangan --> nikah and STOP right there. I don't want myself to STOP right there. Of course, i want to get married someday and build a family. Siapa sih yang gak mau menikah dan membentuk keluarga kecil? that is what almost every woman dreams of. Tapi mengingat usia gue yang masih di 20an awal, gue masih pengen ngelakuin banyak hal, khususnya memenuhi passion gue. Passion gue sebenernya belum terlalu jelas banget, tapi menurut gue itu cukup simple: Gue pengen bisa ngeliat langit yang berbeda dari langit yang selama ini gue liat, gue pengen nginjek tanah yang beda dari tanah yang gue injek selama ini, gue pengen menghirup udara dan atmosfir yang berbeda dari udara dan atmosfir yang gue hirup selama ini, dan gue pengen hidup dan berbaur sama lingkungan dan masyarakat yang berbeda dari lingkungan dimana gue hidup sekarang. Gue pengen melanjutkan pendidikan di luar negeri. Bukan karena udah gak betah dengan segala hal di Indonesia, i totally love my nationality, i love this country tapi gue pengen mencoba sesuatu yang baru, karena menurut banyak orang yang hidup di luar negeri, lo akan lebih menghargai Negara lo sendiri ketika lo hidup terasing di negara orang and i wanna prove it by myself. And about this, Prof. Rando wrote on his book:
And the he added:Kurasa, kamu bisa melihat dirimu sendiri dengan lebih objektif ketika kamu berada di tempat asing. Keuntungan lain dari bertualang adalah kamu bisa menyadari bahwa apa yang selama ini kamu pikir normal dan tidak perlu diperhatikan, sebenarnya tidak senormal itu dan perlu kamu pikirkan.
Bertualang memberimu kesempatan untuk berpikir kembali tentang tata cara yang kamu pegang. bebas tanpa prasangka.
Gue emang punya ketertarikan sendiri sama beberapa negara khususnya negara-negara asing kayak UK atau khususnya di Asia kayak Thailand, Jepang dan salah satunya yang emang lagi intens gue pelajari yaitu Korea Selatan. Yep, even my friends judge me that i'm a Korean freak. I don't care about how they call me. Bukan cuma soal kpop dkknya yang gue pelajari dari negara ini, tapi gue belajar secara menyeluruh. Even when i was in the 7th semester, i chose this country as an object of my presentation buat mata kuliah Cross Culture Understanding. Gue mempelajari sedikit bahasa mereka, bahasa dasarnya aja, kebudayaan mereka dan bagaimana sistem dan tata cara hidup mereka. Korea emang negara yang masyarakatnya punya etos kerja dan fighting spirit yang tinggi, tapi sisi negatifnya, banyak masyarakat Korea yang mudah ngerasa stress dan memilih jalan pintas yaitu bunuh diri. That's why tingkat bunuh diri di Korea itu tinggi. Well at least, Indonesia masih jauh lebih baik. Mental masyarakat kita masih lebih kuat dibanding orang Korea. Cuma masyarakat kita cuma butuh untuk lebih mau "bekerja keras" aja dan gak berparadigma "uang jatuh dari langit" alias pengen kaya, pengen sukses tapi gak pengen susah. Definisi sukses yang dianut masyarakat Korea dengan masyarakat Indonesia jelas beda, Sukses bagi masyarakat Korea (atau bahkan di negara lain) adalah ketika mereka mampu mewujudkan apa yang mereka mau, tapi definisi sukses buat kebanyakan masyarakat Indonesia adalah: UANG, rumah mewah dan kendaraan roda empat mahal. Maka gak jarang, banyak yang sudah di atas dan akhirnya tersesat karena uang. Kira-kira hal-hal seperti itulah yang gue coba pelajari dari negara mereka, ambil sisi positifnya dan mencoba menerapkan itu buat kehidupan gue sendiri. See, learning about other countries is not a bad thing. So, don't judge if there are people who learns about other countries or speaks in another language even though they're Indonesian. That is something that i hate from our people. Being judged as someone who doesn't love his/her something because we learn about other countries, and i feel like, i wanna yell at their faces saying: "HEY I STILL MEMORZE PANCASILA AND SOME OF OUR NATIONAL SONGS!. HOW ABOUT YOU?", they even cannpt mention our national songs. so, DON'T EVER JUDGE SOMEONE.
So, that's it. Intinya gue merekomendasikan buku ini buat mereka-mereka yang tersesat layaknya gue di usia mereka yang baru aja menginjak 20 tahun. I promise you that this book isn't boring, except if you really hate reading and book that much. Enjoy your 20s age yeorobun*! (~^^~)
ps: Yeorobun = Teman-teman/everyone


0 komentar:
Posting Komentar